Background Story PTSN (PT. Sat Nusapersada Tbk) adalah salah satu perusahaan manufaktur dan perakitan terkemuka di Indonesia, berpusat di Batam. Perseroan melayani pembuatan berbagai macam produk dari part otomotif hingga tablet & laptop. Salah satu visi perusahaan adalah untuk mengurangi angka impor nasional, dengan memanfaatkan sumber daya manusia di Indonesia yang berlimpah.
Hal yang menarik tentang PTSN adalah posisinya di semiconductor value chain. Sebelumnya kita tahu bahwa ada 5 level disini:
Tentang EMS EMS - Electronic Manufacturing System adalah perusahaan yang berspesialisasi dalam merakit produk elektronik menjadi hasil jadi. Ada beberapa contoh perusahaan EMS di Indonesia. PTSN (EMS murni terbesar di Indonesia) -> merakit peralatan consumer elektronik, gadget, dan IT Jabil (EMS terbesar asal AS di Batam) -> Aerospace, EV otomotif, medis, komponen menara BTS Flex (competitor jabil di Batam) -> komponen server, data centre, modul kontrol elektronik, power supply PT Arisa Mandiri Pratama (Demak) -> home appliance & consumer elektronik PT Panggung Electric Citrabuana (Sidoarjo) -> broadband, telco, set top box, home appliances
Ada juga beberapa perusahaan EMS sejenis Satnusa di dunia, seperti: Foxconn (smartphone & game console), Pegatron (laptop & desktop PC), Luxshare (accessories seperti airpods, airtag), Wistron Corporation (laptop & desktop PC). Sebagai EMS, fokus perseroan adalah ke volume game, artinya perusahaan mesti mencoba untuk merakit dan menjual sebanyak mungkin parts & elektronik. Revenue stream perseroan dibagi menjadi 2: Assembly services: pendapatan yang diterima dari pelanggan dimana bahan baku utama disediakan oleh pelanggan dan perusahaan berfokus pada proses perakitan seperti SMT, Back-End, Final Assembly, Testing dan Packaging. Sales: pendapatan dari pelanggan yang mencakup bahan baku, biaya manufaktur dan komponen lainnya. Dalam model ini perusahaan membeli bahan baku langsung dari pemasok sebelum melakukan proses produksi sesuai prosedur operasi standar
Seperti yang kita bisa lihat di diagram di atas, perseroan mengalami peningkatan ~20% di Sales revenue, sehingga in menyebabkan gross margin turun dari 21.8% hingga ke 13.8% pada periode yang sama, dikarenakan model Sales memang lower margin karena harus membeli raw materials dulu. Ini akan kita bahas lebih lanjut di bagian financials nanti. Untuk customer PTSN sendiri, sebagian besar yang berkontribusi pada revenue adalah perusahaan elektronik dan gadget terkemuka di Indonesia seperti Xiaomi dan Asus.
Model flow bisnis PTSN ini mencakup dari kontrak kerja yang mencakup dalam waktu lama, misalnya 1-3 tahun, dimana PTSN akan menghitung dan akan berinvestasi dengan membeli mesin yang akan digunakan untuk memproduksi produk jadi/ setengah jadi. Tidak semua material dibeli oleh PTSN, komponen penting akan dibeli dari vendor. Untuk produk-produk yang disediakan oleh vendor adalah material penting seperti chipset atau module kamera, sedangkan PTSN hanya merakit dengan membuat MCB module, mencetak cover plastik dan packaging. Beberapa contoh portofolio Satnusa.
Courtesy of @pranoto.winata (IG) Kurang lebih top 5 customer dari PTSN berkontribusi ke sekitar 60% dari total revenue di PTSN, kurang lebih ini menggambarkan realita di dunia EMS, dimana typically perusahaan-perusahaan di bidang ini mengandalkan segelintir customer besar.
Major customer contributions more than 10% revenue in USD Nanti kita akan revisit ini lagi di bagian outlook, sekarang kita bahas shareholders composition nya dul Shareholder Composition Perseroan memiliki struktur sebagai berikut, dimana mayoritas saham masih dimiliki oleh pendiri, Abidin Fan, dengan jumlah nilai shares mencapai 1.06T (per harga saham 7 April 2026). Pemilik perorangan lainnya adalah Bidin Yusuf, yang memiliki hubungan keluarga dengan Abidin Fan, telah menjabat sebagai direktur operasional sejak 2007 dan memiliki 3.5% dari saham PTSN.
Dari 10% kepemilikan publik, ada dua nama dari kepemilikan > 1%, dan salah satunya adalah PT Asus International Limited (Asus Indonesia), yang membuat total Investasi Asus menjadi 14.91%
Courtesy of @pranoto.winata (IG)
Financials
Supercuan Desk Research Seperti yang kita bisa lihat di atas, perseroan mengalami perbaikan revenue sejak 2024, melonjak dari 122.86 -> 242.79 (mn USD) pada 2025. Margin sudah naik secara konsisten dari 2019 hingga 2023 dan mengalami penurunan hingga 2025, tetapi masih tetap berada di level lebih tinggi daripada 2016-2021. Jika kita refer ke table semiconductor value chain di atas, net margin di angka 5.77% termasuk masih sangat bagus di upper bracket untuk industri EMS.
Beban Pokok Penjualan (mn USD) Jika kita melihat beban pokok penjualan kita bisa melihat bahwa, PTSN selaras dengan diagram sales composisition yang ditampilkan di awal artikel ini, terdorong dari customer untuk melakukan pembelian bahan baku & melakukan perakitan (revenue stream 2). Tapi bisa kita lihat hampir semua bahan baku yang digunakan hampir terpakai, jadi ini adalah sesuatu yang bagus.
Komposisi pendapatan PTSN by sector selalu berbeda dari tahun ke tahun, misalnya di 2015-2016, by revenue consumer sector menjadi sektor dominan, 2018-2020 telco sektor berjaya, 2022-2024 menjadi lebih stabil di telco - networking - consumer. 2025 full year, akan didominasi kembali oleh sektor telco, ditopang dari pemain baru Motorola dan pemain existing, Xiaomi. Contoh beberapa sample sektor perakitan: Consumer (panel microwave, panel water heater) Automotive (car audio, tire pressure measuring, battery) Networking (switch, router) Telco (phone) Current 2026 Outlook Salah satu keunggulan dari PTSN adalah dia adalah salah satu perusahaan yang sangat diuntungkan karena perang dagang US - Tiongkok. Di 2022 misalnya, investasi PTSN melalui Asus dan Pegatron, berkolaborasi untuk merakit dan ekspor ke AS untuk menghindari terkena perang tarif. Demikian dengan 2025 yang membuat Motorola masuk ke PTSN. Selain itu, jika kita perhatikan Motorola adalah kuda hitam yang menjadi katalis pesatnya revenue dan profit PTSN di 2025. Sebagai informasi tambahan, Motorola diakusisi oleh Lenovo dan mulai bangkit kembali untuk mencoba merebut pangsa pasar smartphone di Asia Tenggara terutama Indonesia.
Motorola sendiri menyumbang sekitar ~25% dari total pendapatan dan dari situ ~50% di Indonesia dan sisanya untuk pasar ekspor ke tujuan utama Amerika Serikat (Motorola Mobility LLC).
Dalam perjalanannya, PTSN juga memiliki lika liku panjang, puncaknya ledakan terjadi ketika produksi Zenfone oleh Asus dan distop di tahun berikutnya, revenue dan laba di tahun berikutnya pun turun. Namun revenue itu mulai kembali menukik ketika pemain baru, Motorola masuk di tahun berikutnya. Jika kita memperhatikan kinerja PTSN, dia sangat bergantung pada pemain besar handphone. Jika ada masalah dan pemberhentian produksi, maka revenuenya akan drop dan lini produksinya akan kembali tidak efisien. Seperti yang kita sudah jelaskan di atas, di industri EMS, ada dua cara perusahaan menerima pesanan, dan ini sangat mengubah bentuk laporan keuangan: Model Turnkey (Beli Putus/Sales): PTSN harus membeli sendiri komponen-komponen mentahnya (chipset, layar, memori), merakitnya, lalu menjual barang jadinya ke klien. Karena harga komponen yang super mahal ikut dicatat sebagai "Pendapatan", angka Revenue akan terlihat raksasa. Namun, karena PTSN hanya mengambil untung dari jasa rakitnya, persentase laba kotor (GPM) terhadap total pendapatan menjadi sangat, sangat kecil. Beban Pokok Penjualan (COGS) di 2018-2019 mencapai 93%-95% karena mayoritas isinya adalah harga beli komponen. Model Tolling (Jasa/Assembly Services): Klien (misal: Motorola) yang membeli dan mengirimkan komponen ke pabrik PTSN. PTSN hanya menagih "biaya jasa perakitan". Revenue terlihat jauh lebih kecil, tapi GPM-nya tebal karena nyaris tidak ada beban pembelian bahan baku di COGS. Di 2018-2019, mayoritas kontrak PTSN bergeser ke model Turnkey bervolume tinggi, sehingga pendapatan membengkak semu. Pada 2018, Perang Dagang AS-Tiongkok sedang panas-panasnya. Pegatron (raksasa manufaktur Taiwan) panik dan butuh pabrik di luar Tiongkok secepat mungkin untuk merakit perangkat jaringan (router, smart home) tujuan ekspor ke AS. Pegatron menyalurkan pesanan masif ke PTSN. Namun, pricing power ada di tangan Pegatron. Mereka menekan biaya assembly fee PTSN serendah mungkin. PTSN menerima kontrak margin tipis ini demi mengamankan volume dan membuktikan diri bisa menangani klien kelas dunia (sebagai loss leader atau strategi bakar uang demi reputasi). Penghentian lini produk Asus Zenfone secara mendadak di 2019 membuat biaya fix cost menjadi mahal. Ketika sebuah lini produksi besar tiba-tiba dihentikan: Biaya Tetap Berjalan Terus: Mesin SMT yang mahal tetap mengalami depresiasi, sewa pabrik tetap berjalan, dan ribuan buruh tetap harus digaji (atau diberi pesangon). Inventory Write-down: PTSN menggunakan model turnkey untuk Zenfone, komponen mentah di gudang yang sudah dibeli namun tidak bisa dirakit dan dijual, sehingga harus dicatat sebagai kerugian yang menggerus laba kotor. Tahun 2025 sangat berbeda bagi PTSN (Pendapatan $242 juta tapi GPM naik ke 13.5%) adalah karena PTSN saat ini mengambil porsi kontrak Tolling (jasa) yang lebih besar dari Motorola dan margin yang lebih premium untuk ekspor, tanpa membebani neraca mereka dengan pembelian komponen mentah yang berisiko tinggi.
Jika kamu liat profile client PTSN, tidak semuanya bertahan dan memberikan kontribusi besar bagi revenue PTSN. Terkadang kecil, terkadang besar, nilai revenuenya cukup volatil. New Player -> APPLE Analisis ini masih panjang, mau tahu penjelasan lengkapnya? Langganan sekarang di supercuansaham.id untuk akses penuh analisis investasi dari tim Supercuan!